Dokter Di Mata Kamera

“Ringkasnya, … kami ingin para dokter bahagia dan sehat, peduli dan kompeten, dan menjadi teman perjalanan bagi masyarakat sepanjang perjalanan yang kita sebut hidup” (Carlos A Rizo, What’s a good doctor and how do you make one?, http://www.pubmedcentral.nih.gov)

Setiap hari, masyarakat berutang kepada para dokter. Dengan dedikasi, dokter mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menyembuhkan pasien, yang datang kepadanya untuk berbagai keluhan, mulai dari sulit tidur hingga gagal jantung, mulai dari sakit kulit hingga perdarahan otak.

Namun, ketika orang besar sakit, dokter tiba-tiba berada dalam sorotan kamera, tak jarang dengan wajah kelelahan. Itulah yang dilihat masyarakat Indonesia dalam dua pekan terakhir seiring dengan sakitnya mantan Presiden Soeharto. Nama-nama dokter yang tergabung dalam Tim Dokter Kepresidenan di bawah pimpinan dokter Mardjo Soebiandono lalu terdengar akrab di telinga.

Bagi kalangan yang sehari-hari berkecimpung dalam praktik kedokteran, boleh jadi apa yang dilakukan terhadap mantan presiden kedua itu merupakan hal rutin. Namun, dalam liputan media, langkah-langkah yang dilakukan dokter Mardjo dan timnya sungguh satu olah ilmu yang canggih, melibatkan teknik dan alat kedokteran mutakhir. Hal ini juga mudah dimengerti karena Pak Harto dirawat akibat sakit yang amat serius menyusul menurunnya fungsi jantung, ginjal, paru-paru, yang diikuti dengan penumpukan cairan tubuh, turunnya tekanan darah, dan simtom lain.

Menanggapi sakit yang parah itu, muncul rasa ingin tahu, langkah apa yang dapat dilakukan Tim Dokter Kepresidenan, yang tentunya merupakan dokter-dokter pilihan yang sudah diakui kepakarannya di bidang masing-masing, antara lain sebagai ahli jantung, ahli penyakit dalam, ahli anestesi, dan ahli saraf. Dalam pelaksanaannya, langkah penyelamatan nyawa Pak Harto lalu berubah menjadi drama yang menyedot perhatian berbagai kalangan

Teknik dan teknologi maju

Seiring dengan berlangsungnya pengobatan, para dokter dalam tim secara tidak langsung juga melakukan pencerahan kepada khalayak tentang teknik pengobatan mutakhir. Antara lain, masyarakat lalu juga mendengar apa itu CRT, CVVHD, dan ventilator.

Ambil contoh CRT (cardiac resynchronization therapy) atau teknik perawatan jantung dengan membuat kerja jantung kembali sinkron. Pengembangan teknik ini dilatarbelakangi oleh banyaknya penderita kegagalan jantung yang dikenal sebagai CHF (congestive heart failure). Kini ada sekitar 22 juta penderita CHF di dunia. Sampai belum lama ini, penderita CHF diobati dengan mengubah gaya hidup, minum obat, dan kadang dengan bedah jantung. Tapi, kalau simtom yang diderita parah, pendekatan di atas sedikit saja menolong (www.hrspatients.org).

CRT dipandang sebagai terapi baru inovatif yang bisa menanggulangi simtom CHF dengan memperbaiki koordinasi kontraksi jantung. CRT dibuat dengan teknologi yang digunakan dalam alat pacu jantung.

Jika masalah jantung coba diatasi dengan CRT, untuk gagal ginjal teknik yang disebut-sebut adalah CVVHD (continuous venovenous haemodialysis), atau CVVHF (continuous venovenous haemofiltration). Teknik ini banyak digunakan pada penderita acute renal failure (ARF), yang sering menjadi penyebab kematian setelah bedah jantung. (www.termedia.pl).

Dari diagram uraiannya tampak bahwa darah terus-menerus dicuci, melalui mesin yang dilengkapi dengan pompa-pompa untuk mengeluarkan cairan dan memasukkan cairan pengganti. Karena dialisa bisa merusak sel-sel darah merah, transfusi pun dilakukan untuk menanggulanginya, tutur Dr Djoko Rahardjo, ahli urologi, seperti dikutip AFP.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: