Indahnya Hujan Meteor

komet.jpg

Meskipun jumlah meteor yang terlihat tidak sebanyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, hujan meteor Leonid yang puncaknya berlangsung hari Minggu (18/11) tetap menjadi peristiwa tahunan yang ditunggu-tunggu. Penggemar astronomi rela mencari tempat yang jauh di luar kota demi melihat meteor secara optimal. Seneng banget saat melihat meteor-meteor yang berwarna-warni jatuh dari timur ke barat,” kata Hanna Ahdiana (15), anggota Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) yang mengamati hujan meteor Leonid di Megamendung, Bogor, Minggu (18/11) dini hari.

Ketakjuban siswi kelas XI Madrasah Aliyah Negeri 13 Jakarta ini membuat ia tak sempat mengucapkan harapan atau doa apa pun.

Masyarakat awam memercayai bahwa doa yang dipanjatkan saat melihat meteor atau bintang jatuh akan terkabul. Padahal, secara astronomis, meteor adalah peristiwa alam biasa yang tidak memiliki hubungan langsung dengan nasib manusia.

Hujan meteor Leonid adalah peristiwa astronomi tahunan yang terjadi pada 10-23 November. Tahun ini, puncak hujan meteor terjadi 18 November.

Waktu terbaik pengamatan meteor adalah selepas dini hari hingga menjelang terbit fajar. Beberapa astronom memperkirakan jumlah meteor yang terlihat kali ini berkisar 10-15 meteor per jam dengan kecepatan menembus atmosfer Bumi mencapai 71 kilometer per detik.

Lintasan komet

Hujan meteor terjadi saat Bumi dalam peredarannya mengelilingi Matahari melintasi daerah bekas lintasan komet. Saat mendekati Matahari, komet yang terbakar memancarkan partikel-partikelnya. Partikel sisa komet yang berbentuk debu ataupun batu-batu luar angkasa ini tertinggal di lintasan komet.

Dalam kasus hujan meteor Leonid, jejak komet yang dilewati Bumi berasal dari Komet 55P/Temple-Tuttle yang mendekati Matahari setiap 33 tahun sekali. Terakhir kali komet ini mendekati Matahari tahun 1998. Setiap kedatangannya, jejak partikel yang tertinggal di lintasannya akan selalu diperbarui.

Jejak partikel di lintasan Komet 55P/Tempel-Tuttle ini dipenuhi oleh meteoroid-meteoroid tua yang jumlahnya sangat besar. Gumpalan meteoroid (swarm) pada lintasan ini diperkirakan memiliki ketebalan 35.000 kilometer dengan panjang 350 juta kilometer.

Saat atmosfer Bumi bersentuhan dengan daerah jejak komet tersebut, partikel-partikel yang ada akan memasuki atmosfer Bumi. Gesekan partikel sisa komet dengan atmosfer Bumi membuat batu-batu itu terbakar dan menimbulkan kilatan cahaya yang disebut meteor. Partikel sisa komet ini akan mulai terbakar pada ketinggian 100 km hingga 150 km di atas permukaan Bumi. Karena ukurannya yang kecil, meteor ini biasanya habis terbakar pada ketinggian 50 km-100 km.

Warna-warni meteor ditentukan oleh suhu meteor saat terbakar. Seperti nyala api, semakin biru, ia semakin panas. Sebaliknya, semakin merah berarti semakin dingin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: